Kak Ishak Rindar - Ketika Kejenuhan dan Rasa Penasaran Membuahkan Rasa Syukur

Kembali ke Kegiatan

Kak Ishak Rindar - Ketika Kejenuhan dan Rasa Penasaran Membuahkan Rasa Syukur

29 Juni 2026 Oleh: Aktivis Sosial Indonesia
Kak Ishak Rindar - Ketika Kejenuhan dan Rasa Penasaran Membuahkan Rasa Syukur
Sebelum menjadi bagian dari Komunitas Aktivis Sosial Indonesia, saya adalah seseorang yang cukup aktif di lingkungan internal kampus. Banyak waktu saya habiskan dalam kegiatan organisasi, forum diskusi, kepanitiaan, hingga berbagai aktivitas pergerakan mahasiswa. Dunia kampus mengajarkan saya tentang kepemimpinan, cara berpikir kritis, serta bagaimana menyampaikan gagasan di ruang publik. Bagi saya saat itu, organisasi adalah tempat belajar sekaligus ruang untuk bertumbuh. Namun, seiring berjalannya waktu, ada satu fase ketika saya mulai merasa jenuh. Rutinitas yang terus berulang, dinamika organisasi yang kadang hanya berkutat pada persoalan internal, perlahan membuat saya merasa kehilangan sesuatu. Saya mulai bertanya pada diri sendiri: apakah pengabdian hanya sebatas diskusi, rapat, dan aktivitas di lingkungan kampus saja? Apakah ada bentuk pengabdian lain yang lebih dekat dengan realitas masyarakat secara langsung? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul hingga suatu hari saya menemukan sebuah komunitas sosial melalui Instagram. Awalnya hanya sekadar melihat unggahan kegiatan mereka, tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Komunitas itu memperlihatkan perjalanan ke daerah pelosok, bertemu anak-anak di wilayah terpencil, serta kegiatan sederhana yang penuh makna. Dari sana, rasa penasaran saya tumbuh. Saya mulai mengikuti informasi kegiatan mereka, lalu memberanikan diri untuk ikut bergabung dalam seluruh rangkaian aktivitasnya. Di komunitas tersebut, saya dikenal sebagai Volunteer 7. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya nomor atau identitas biasa, tetapi bagi saya itu menjadi awal dari perjalanan hidup yang baru. Dari kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, saya mulai melihat sisi lain dari kehidupan yang sebelumnya tidak pernah benar-benar saya pahami. Saya menyadari bahwa masih banyak daerah yang tertinggal, masih banyak anak-anak yang harus berjuang keras hanya untuk mendapatkan pendidikan yang layak, dan masih banyak masyarakat yang hidup jauh dari akses yang memadai. Ada momen yang sangat membekas dalam diri saya ketika mengetahui bahwa para relawan rela berjalan jauh menuju pelosok hanya untuk mengajar. Mereka menembus jalan yang rusak, mendaki perbukitan, bahkan harus berjalan kaki selama berjam-jam untuk sampai ke sekolah-sekolah sederhana yang mungkin jarang diketahui orang. Di sana saya sadar, ternyata masih ada orang-orang yang memilih mengabdikan tenaga, waktu, dan pikirannya demi membantu sesama tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Pengalaman itu perlahan mengubah cara pandang saya terhadap arti pengabdian. Saya belajar bahwa membantu tidak selalu harus menunggu menjadi orang besar atau memiliki segalanya terlebih dahulu. Terkadang, kehadiran, kepedulian, dan ketulusan adalah hal paling sederhana namun paling berarti bagi orang lain. Dari perjalanan itu juga saya memahami bahwa realitas kehidupan tidak selalu sama dengan apa yang terlihat di kota atau lingkungan kampus. Di pelosok, saya melihat bagaimana keterbatasan justru melahirkan semangat yang luar biasa. Anak-anak tetap datang belajar meski fasilitas sekolah jauh dari kata layak. Para guru tetap mengabdi walau dengan segala kekurangan. Dan masyarakat tetap hidup dengan harapan meski sering kali terlupakan. Menjadi bagian dari dunia kerelawanan akhirnya bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga tentang menemukan kembali makna hidup saya sendiri. Saya belajar tentang rasa syukur, tentang kemanusiaan, tentang arti hadir bagi sesama, dan tentang bagaimana perjalanan ke tempat-tempat sederhana justru mampu memberikan pelajaran hidup yang sangat besar. Kini saya percaya, terkadang titik jenuh dalam hidup bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menemukan arah baru yang lebih bermakna.